Oikumene WNI Kristiani di TL, Dukung Pembangunan TL

Oikumene WNI Kristiani di TL, Dukung Pembangunan TL

- in International
1290
0
Sahat Sitorus

DILI – Duta Besar Republik Indonesia untuk Timor Leste, Sahat Sitorus mengajak  warga negara Indonesia (WNI) di Timor Leste (TL) untuk mendukung pembangunan dan mentaati segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara baru ini.

Mari kita dukung pembangunan yang ada di Timor Leste karena kita hadir disini menjadi bagian dari berkat. Kita hadir disini untuk ikut menyelesaikan masalah bukan pembuat masalah, jadi jagalah nama baik WNI,” kata Dubes RI Sahat Sitorus ketika memberi sambutan pada ibadah Oikumene di Aula Serba Guna Gereja Hosana Dili, Minggu (24/9/2017).

 Kegiatan Oikumene  dengan tema “Budayamu, Budayaku,  Budaya Kita “ dengan Kelompok Masyarakat Batak Diak Los sebagai tuan rumah dan dihadiri oleh kelompok-kelompok masyarakat dari Flobamora, Kelompok Masyarakat Maluku (KEMMA), Kelompok Masyarakat Kawanua (K3TL), Ibu-ibu Santa Elisabeth dan KBRI Dili.

 Dalam sambutannya Dubes RI Sahat Sitorus menilai bahwa  melalui kegiatan Oikumene tercipta kebersamaan antara  WNI  yang ada di TL. Karena itu, ia minta kepada WNI kristiani yang ada di TL untuk mengikuti kegiatan Oikumene yang diadakan setiap dua bulan sekali.

Saya sudah tiga kali mengikuti kegiatan Oikumene dan pesertanya selalu ramai. Malam ini saya sangat bahagia. Ini menandakan kebersamaan antara kita.  Puji Tuhan, mudah-mudahan  Oikumene  mendatang pesertanya akan lebih banyak lagi. Saya sangat terharu dengan Khotbahnya ibu Pendeta. Selalu saya bilang, ada korelasi juga tugas diplomat dengan Alkitab, karena kami dari Kedutaan Besar, yang menjalankan tugas yang ditulis dalam Alkitab, menjadi garam dan  terang,”tuturnya.

Pada bagian lain, Dubes RI Sahat Sitorus meminta kepada WNI untuk mentaati aturan-aturan  keimigrasian, terutama WNI yang kawin-mawin dengan warga TL karena  kalau over stay berarti sudah tidak ada kewarganegaraan.

“Sebagai WNI harus tau aturan, seperti orang Medan mengatakan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, jadi aturannya harus diikuti. Karena itu, rajin-rajinlah bertanya kepada Pak Teodorus Simarmata (Atase Imigrasi KBRI Dili),” kata Dubes Sahat Sitorus.

Berkaitan dengan Oikumene yang bertemakan budayamu, budayaku, budaya kita (1 Korintus 9:19-23), Dubes Sitorus mengatakan bahwa budaya merupakan turunan dari suatu kebiasaan tapi perlu dihormati meski, tidak harus diikuti, tetapi jangan dimusuhi.

Saya mengucapkan selamat beribadah Oikumene, nanti bertemu bulan November yang tuan rumahnya adalah Ibu-ibu Santa Elizabeth Taibesi, dan saya harap bisa lebih semarak lagi,” ujarnya.

Ibadah Oikumene dengan sub tema “Menghargai dan Menyikapi Budaya Yang Berbeda  Untuk Saling Membangun”  diawali dengan doa pribadi jemaaat, dilanjutkan dengan pujian-pujian dari kelompok Masyarakat Batak Diak Los Timor Leste dan dilanjutkan dengan lagu pujian Hari ini, harinya Tuhan.

Doa Pembukan oleh ibu Nur Afni Silaban, dilanjutknan dengan lagu pujian dari kelompok ibu-ibu Santa Elizabeth. Kemudian, firman Tuhan  dibawakan  oleh Pdt. Erminawati Damanik.

Dalam kotbahnya, Pdt. Erminawati Damanik mengatakan setiap suku bangsa memiliki budaya, berarti berbeda suku berbeda budaya dan dari berbeda budaya kita bisa mengenal ini suku apa. Dalam sub-tema mengatakan bagaimana berbeda-beda suku kita bisa saling menghargai untuk membangun.

Dalam bacaan injil hari ini, Paulus memberikan salah satu kesaksian bahwa Paulus menyikapi didalam kehidupan dalam budaya yang berbeda-beda. Jemaat Korintus yang diinjili Paulus dalam budaya bagaimana mengenal Yesus supaya mereka dalam satu persekutuan yang disebut Jemaat.

Bagaimana dengan kita yang datang dari Batak, Flores, Sumba, Alor, kita bersama-sama datang di Timor Leste, dengan budaya, pola pikir dan karakter kita  masing-masing, berbeda-beda dan kita masuk di Timor Leste dengan budaya yang berbeda-beda, namun apa yang kita capai untuk menjadi kerinduan bagi Tuhan yakni injil disampaikan, supaya kita menjadi terang, kesaksian, menghargai budaya dimana kita berpijak dan membangun di Negara Timor Leste,”tuturnya.

Usai pewartaan firman, dilanjutkan dengan lagu puji-pujian yang dipersembahakan dari masyarakat Kawanua.

Doa syafaat dibawakan oleh setiap perwakilan kelompok masyarakat dimulai dari kelompok Masyarakat Kawanua berdoa untuk para pemimpin Gereja, Masyarakat Flofamora berdoa untuk pemerintah Negara Republik Demokratik Timor Leste, Masyarakat Maluku berdoa untuk pemerintah Negara Republik Indonesia, masayarakat Batak Diak Los berdoa untuk kedutaan besar Republik Indonesia di TL, Ibu-ibu Elizabeth berdoa untuk Masyarakat Indonesia yang berada di TL.

Usai doa Syafaat, Kelompok Masyarakat Flobamora mempersembahkan lagu pujian, dilanjutkan dengan doa persembahan yang dipimpin oleh Suster Anisia Situmorang. Sebuah lagu pujian dari anak-anak Batak Diak los, dilanjutkan dengan lagu pujian yang dinyanyikan bersama yakni aku memuji kebesaranmu. Kemudian, pujian dari Kelompok Masyarakat Maluku dan Pujian dari masyarakat Batak dan Hosanna Choir dan doa penutup yang dipimpin oleh Pdt. Moses da Silva sekaligus doa berkat untuk komunitas Oikumene yang ada di TL.

Pada kesempatan itu, Ketua Oekumene, Teodorus Simarmata dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada semua komunitas WNI di TL yang melasanakan ibadah Oikumene  dengan baik.

Biarlah ini menjadi berkat bagi semua yang hadir maupun saudara-saudari yang berjuang untuk melaksanakan kegiatan hari ini, kita akan bertemu kembali pada bulan November, dimana akan diorganisir oleh kelompok ibu-ibu Santa Elizabeth. Sebagai Ketua Oikumene dan sebagai Atase Imigrasi di KBRI Dili, selalu mengingatkan bahwa jadilah tamu terbaik di negara TL, atau saya kutip dari kotbah hari ini bahwa biarlah kita jadi titik terang di Negara ini, khususnya komunitas WNI yang ada di TL,” tuturnya.

Pada bagian lain, Atase Imigrasi KBRI Dili ini mengatakan bahwa pihaknya mendapat arahan dari Duta Besar RI di TL, Sahat Sitorus bahwa, sebenarnya di tahun 2017, kalau menurut undang-undang Imigrasi yang berlaku di TL, sebetulnya harus berlaku pada bulan Agustus 2017, namun mereka mengatakan impleamentasinya baru berlaku bulan November 2017 karena masalah transisi pemerintahan di negeri ini, maka butuh waktu untuk konsentrasi. Ada dua hal dalam pelaksanaan undan-undang, terutama pemberian visa bagi WNI yang bekerja disini, dan WNI yang kawin silang dengan WNTL.

Dalam kesempatan ini saya mau menyampaikan bahwa masing-masing komunitas harus konsultasi dengan warganya dan disampaikan kepada KBRI, baik dari konsulat maupun dari Atase KBRI Dili, jika ada permasalahan administrasi ataupun hal-hal lainnya disampaikan agar dicegah sedini mungkin, karena semakin maju Negara itu, maka aturannya pun semakin ketat,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Masyarakat  Flobamora Agustinus Feoh mengatakan atas nama masyarakat Indonesia, terutama Flobamora, sangat berterima kasih atas kehadiran  Dubes RI yang ikut berpartisipasi dalam ibadah Oikumene. “Kami sangat berterima kasih karena Bapak Dubes sebagai orang tua kami, sebagai pemimpin kami di negeri ini, sangat mendukung kami,” ujarnya.

Dikatakan, Pemerintah Indonesia tahun ini memang merayakan hari budaya seperti kemarin ada pasar murah di KBRI Dili. Karena itu, lanjutnya, melalui Oikumene masing-masing kelompok masyarakat  memperagakan kegiatan oikumene dengan budayanya masing-masing.

Jadi kami sangat bergembira karena kami walaupun memiliki bahasa, suku, budaya yang berbeda-beda tetapi kami bisa bersatu di negeri orang,” kata Agustinus Feoh.

Menurut pantauan STL pada ibadah Oikumene di Aula Serbaguna Gereja Hosana Dili dihadiri Dubes RI untuk TL, Sahat Sitorus  bersama istri dan kelompok masyarakat kristiani yang ada di TL termasuk juga seorang warga Prancis keturunan Indonesia bersama ibunya memuji tuhan dalam lagu. Joseph Koa

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *